Watu Rombang, Batu Legenda Berdaya Mistis-Magis - FloresMerdeka

Home / Feature

Rabu, 24 Februari 2021 - 04:33 WIB

Watu Rombang, Batu Legenda Berdaya Mistis-Magis

LABUAN BAJO, FLORESMERDEKA.COMPenduduk setempat enggan berkunjung ke tempat ini karena konon, tanah ini masih keramat. Barangkali kelompok pencinta alam dan mereka yang berjiwa kosmis dapat berkunjung ke sini.

Lahan luas membentang. Segala tumbuhan hidup dengan liarnya. Rumput-rumput menghiasinya. Pohon-pohon menambah tak terawatnya lahan yang membentang itu. Burung-burung mencari rumput yang telah kering untuk membangun sarangnya. Belalang menari-nari di dahan-dahan pohon yang tumbuh dengan leluasa. Jengkerik gemar bikin liang, karena keadaan tanahnya nyaman dan belum banyak orang mengganggunya.

Bila malam tiba, bintang-bintang dan bulan dapat memancarkan sinarnya dengan leluasa. Fajar merekah langsung menyusup diantara celah-celah dedaunan, menembus hingga permukaan tanah. Tatkala matahari perlahan meninggi ke atas, kabut fajar memutih dan kian cerah. Bening!

Biasanya, penduduk setempat sudah lebih awal sebelum matahari menyembulkan dirinya mereka sudah berada di sekitar tanah yang membentang luas itu. Mereka keluar dari rumah dengan penuh perjuangan memberikan makanan hijauan rumput liar buat ternak sapi atau kerbau dengan cara diikat dengan tali pada sepotong patok kayu dan dipindahkan dari satu titik ke titik tertentu di padang luas itu. Tatkala musim panen madu tiba maka para pemburu madu hutan bergegas di subuh hari melintasi padang-masuk-keluar hutan. Mereka menuai hasil madu bermula sekitar bulan Oktober hingga berakhir bulan November dalam setiap tahunnya.

Di salah satu bagian tanah yang membentang itu berdirilah sebuah batu bernama Watu Rombang. Memandang Watu Rombang  bikin terjaga lagi warisan ingatan akan cerita terjadinya di masa silam. Kisah awal batu ini sudah melegenda di kalangan rakyat Dusun Weor, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Flores-Nusa  Tenggara Timur (NTT).

Sebuah batu menyimpan folklor yang sampai sekarang masih bertahan. Mengisahkan seorang perempuan mengandung menjelma jadi batu gara-gara melangkahi salah satu syarat berburu. Sudah menjadi larangan: perempuan tak boleh menyaksikan perburuan massal namun perempuan yang lagi ‘berbadan dua’ itu tetap saja tak mau tahu. 

Saat ini batu itu punya kelebihan. Watu Rombang tak hanya panorama dataran yang luas, lalu macam-macam pohon memesona, tetapi dari ketinggian itu bisa melihat sawah warga Sok Rutung. Tatkala menyatukan diri dengan alam di Watu Rombang  akan benar-benar merasakan dunia kosmis. Sebuah batu yang berdiri tegak dan tegar dengan berwarna yang khas. Sejenak terhalau rasa penat.

Di puncak batu tampak rumput menyerupai mahkota ratu. Rumput yang  tak pernah mati meski kepanasan dan tingginya tetap saja dari tahun ke tahun. Beragam batu-batu alam dengan masing-masing ukuran tampak menemani batu bercorak ratu bermahkota – buah arsitektur alam. Rasa-rasanya, batu-batu itu digunakan sebagai tempat berdiri bagi para penonton saat berburu massal.

Tempat menyaksikan perburuan rusa di masa silam

Matias Midun, warga setempat yang telah menjalani hidup sebagai pramuwisata selama 27 tahun menuturkan, Watu Rombang adalah tempat untuk bangun kemah  para pemburu rusa di waktu lampau. Lokasinya lebih tinggi dari padang rumput sekitar. Dari Watu Rombang dapat memantau gerombolan rusa yang merumput atau berkeliaran di dataran luas Satar Walang.

Semua jagoan dan kaum cekatan berburu rusa berkuda bangun kemah di sekeliling Watu Rombang sambil bersiaga. Juga tempat perkemahan orang-orang untuk menonton berburu.

“Batu ini punya hubungan dengan tradisi berburu massal,” ujar ayah tiga anak  ini sambil mengelus-elus tangan kanan di sisi Watu Rombang.

Watu Rombang sudah dijadikan lokasi khusus untuk berburu sejak nenek moyang. Sejak masa kerajaan Bima menguasai daerah  Manggarai hingga masa Kerajaan Manggarai. Pada awal pemerintahan Belanda dan awal-awal masa kemerdekaan masih sebagai tempat perburuan massal. Daerah perburuan, seperti Walang, Tompong, Lengkong  Galung, dan Satar Mese Cumbi. Pembagian waktu berburu pun telah ditentukan.

“Biasaya, sekitar awal bulan Agustus diadakan berburu di Walang, pertengahan bulan Agustus dilakukan berburu di daerah Tompong, dan akhir bulan Agustus dilaksanakan di Lengkong Galung dan Satar Mese Cumbi,” tutur Matias. 

Sejak Taman Nasional Komodo (TNK)  terbentuk 6 Maret 1980, kegiatan berburu rusa mulai dilarang. Sekitar tahun 1982 tradisi perburuan  massal sudah  dihentikan. Pemerintah menindak tegas terhadap pemburuan rusa dan binatang lainnya. Sebab, kawasan perburuan ini berdekatan dengan TNK. Di sekitar Watu Rombang, terdapat Kampung Weor, Bancang, Translok (perumahan transmigrasi lokal), Duwe, Benteng, Roang, Sok Rutung, Tana Dereng, persawahan Walang dan persawahan Sok Rutung.         

Selain kisah Watu Rombang masih ada dua batu yang punya cerita berdaya mitis-magis yakni Watu Potang dan Watu Ciok. Watu Ciok adalah tempat hidup ayam yang keluar berkeliaran hanya pada malam hari. Pada siang hari, ayam-ayam tersebut tidak diketahui di mana ayam-ayam itu bersembunyi.         Sekalipun dicari di sekeliling toh tak akan ditemui. Para petani yang menggarap sawah            di sekitarnya sering mendengar bunyi anak-anak ayam dan suara induk ayam yang sedang mendampingi anak-anaknya. Ketika mereka mendekati bunyi suara ayam samabil                 mencari dimana keberadaannya maka tak akan dijumpai.                                            

Watu Potang adalah batu untuk duduk bagi para tamu undangan dari luar kampung untuk menyaksikan perburuan rusa. Menarik sekali bahwa rombongan tamu dalam jumlah besar pun selalu mendapat tempat duduk.  Jadi tak seorang pun undangan yang tidak mendapat tempat duduk.                     

Bagaimana mencapai Watu Rombang? Dapat memakai transportasi angkutan pedesaan dari Kota Labuan Bajo ke simpang Wae Mese, Capi Merombok. Juga bisa mengendarai sepeda motor pribadi atau menggunakan jasa tukang ojek. Dari simpang ini sudah ada beberapa tukang ojek dengan tujuan Satar Walang, Kampung Weor dan pemukiman Translok.

Selama perjalanan Anda akan menyeberangi sungai Wae Mese. Saat musim banjir sepeda motor dapat diangkut dengan sampan menyeberangi sungai itu. Dari Wae Mese Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan motor ojek menuju Watu Rombang. Di tempat unik ini Anda bisa menikmati pesoa panorama alam dan kisah-kisah mistis dibalik pesona wisata alam Watu Rombang dan tradisi unik warisan nenek moyang. (Benediktus Kasman)

Share :

Baca Juga

Feature

Uluran Kasih Dokter Weng untuk Mama Anastasia di Boleng

Bumi Manusia

Arnoldus Stara, Meniti Hidup dari Moke

Bumi Manusia

‘Air Golkar’ Melawat Dahaga Warga

Feature

Wartawan di Manggarai Timur Gunting Kuku Penderita Gangguan Jiwa

Feature

Taman Rendo-Ende, Duhai Nasibmu

Feature

Jeritan Hati Warga Pingggiran Wae Kelambu

Feature

Asyiknya Berwisata di Tengah Pandemi Virus Corona (3)
Kampung Adat Tutubhada. (Foto:BPOLBF)

Feature

Kisah dari Kampung Adat Tutubhada