Meretas Harapan Proyek Geothermal Wae Sano - FloresMerdeka

Home / Ekonomi Bisnis

Kamis, 14 Oktober 2021 - 11:51 WIB

Meretas Harapan Proyek Geothermal Wae Sano

Fasilitas pendidikan di Kampung Nunang yang memprihatinkan.(Foto:Kornelis Rahalaka/Floresmerdeka)

Fasilitas pendidikan di Kampung Nunang yang memprihatinkan.(Foto:Kornelis Rahalaka/Floresmerdeka)

LABUAN BAJO, FLORESMERDEKA.com-Beberapa tahun belakangan ini, Desa Wae Sano menjadi pusat perhatian banyak orang. Desa yang terletak dibagian Selatan Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat (Barat) ini masuk kategori desa tertinggal, terpencil dan terisolir (3T). Akses jalan menuju ke wilayah ini masih cukup sulit. Padahal, kawasan Wae Sano memiliki sumber daya alam melimpah.

Salah satu potensi sumber daya alam yang luar biasa besar yakni Danau Sano Nggoang. Danau ini merupakan danau vulkanik terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Danau yang terletak di ketinggian sekitar 757 meter di atas permukaan laut (dpl) itu mempunyai luas mencapai 513 hektar dengan kedalaman mencapai 600 meter.

Di danau ini pula merupakan habitat dari beberapa jenis burung endemik Flores seperti gagak (corvus floresis), itik gunung (anas superciliosa), itik benjut ( anas gibberinfrons), tesia timor (tesia everetti), kipasan flores (ripidura  diluta), cakak tunggir putih (caridnax fulgidus dan lainnya.

Desa Wae Sano terdiri dari tujuh dusun dan enam anak kampung. Berdasarkan data, pendukung tahun 2019 berjumlah 1.267 jiwa atau 285 kepala keluarga (KK). Terdiri dari laki-laki sebanyak 617 dan perempuan 650 jiwa. Jumlah ini meningkat hanya 33 jiwa dalam satu dekade terakhir (data 2007 jumlah penduduk sebanyak 1.234 jiwa). Penduduk Desa Wae Sano menetap di beberapa anak kampung seperti Ndasak, Wakar, Nunang, Lempe dan Ta’al.

Sejumlah infrastruktur publik telah dibangun di wilayah ini, seperti SMPN 6 Sano Nggoang, SDK Nunang, SDK Dasak, SDI Sano Nggoang, Pustu Nunang, Gereja St. Mikael Nunang, Masjid Ta’al dan Kantor Desa Wae Sano, listrik dan air minum bersih.

Pada umumnya, masyarakat setempat bermatapencarian sebagai petani dan peternak. Beberapa komoditas unggulan seperti padi sawah, kopi, cengkeh, coklat, vanili, kelapa dan pisang. Masyarakat juga memelihara ternak besar dan kecil. Terdapat puluhan sumber mata air yang tersebar di beberapa kampung. Pada musim kemarau debit air menurun bahkan beberapa diantarnya menjadi kering.

Masyarakat Wae Sano terkenal memiliki budaya dan adat istiadat yang masih terpelihara dengan baik. Maklum, segala hal yang berbau modernisasi belum terlalu mempengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya. Hal ini bisa ditemukan dari masih awetnya struktur masyarakat adatnya berikut ritus-ritus adat serta filosofi hidup masih mereka jalankan dalam keseharian hidup mereka.

Tua golo merupakan pemimpin tertinggi pemerintahan golo/beo. Selain tua golo ada pula tua batu atau suku dan tua-tua adat lainnya dengan peran masing-masing untuk mengatur dan menata kehidupan masyarakat adat di kampungnya. Beberapa etnis atau suku tercatat mendiami kampung- kampung di wilayah tersebut seperti Suku Lako dan Suku Dese.

Kehidupan masyarakat sangat rukun, harmonis dan damai, meskipun mereka berasal dari beragam latarbelakang suku, agama dan pandangan ideologi politik. Di wilayah ini memiliki puluhan sumber mata air tawar. Meskipun debit air tidak selamanya stabil sepanjang musim. Selain dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, air juga untuk menghidupi tanaman vegetatif dan fauna termasuk untuk menghidupi sekitar 1.845 ternak baik besar maupun kecil yang ada di wialyah itu.

Selain Wae Sano, Desa Sano Nggoang dan Desa Pulau Nuncung merupakan dua desa bertetangga yang berbatasan langsung dengan Desa Wae Sano dan terletak di kitaran danau Sano Nggoang. Bila proyek geothermal jadi dikembangkan di kawasan itu maka warga di kedua desa ini merupakan penerima manfaat langsung ataupun tidak langsung. Dampak langsung  yang bakal dinikmati oleh masyarakat yakni energi listrik, infrastruktur jalan, air minum bersih, telekomunikasi dan fasilitas publik lainnya seperti fasilitas pendidikan, kesehatan dan masyarakat mudah memasarkan berbagai hasil komoditasnya.

Selain jaminan ketersediaan listrik, pemerintah akan membangun beberapa ruas jalan ke wilayah Wae Sano khususnya dan Kecamatan Sano Nggoang pada umumnya. Dalam waktu dekat pemerintah akan memperbaiki jalur jalan dari Wae Lolos ke Lempe sepanjang 23 km. Pemerintah telah menganggarkan dana puluhan miliar dari APBN, dana pinjaman dan APBD Mabar untuk membangun jalan. Jalur jalan Wae Lolos menuju Wae Sano, Pulau Nuncung dan Sano Nggoang akan dihotmix. Akses jalan yang bagus tentu akan sangat mendorong percepatan kesejahtraan masyarakat.

Bukan Konflik Sosial Tapi Perbedaan Kepentingan

Pro dan kontra terkait kehadiran proyek geothermal di Wae Sano merupakan bagian dari dinamika dan hal yang wajar. Namun,  bagi Tua Golo Nunang, Maksimus Taman, perbedaan pendapat atau pandangan itu bukan bermaksud untuk memecahbelah jalinan kekerabatan sebagai satu komunitas masyarakat adat.

“Yang terjadi di Wae Sano bukan konflik sosial tapi perbedaan pendapat saja karena masing-masing orang punya pandangan dan kepentingannya sendiri-sendiri. Yang paling penting adalah jangan rekayasa, manipulasi atau pembohongan untuk mengadudomba masyarakat,”ujarnya kepada Floresmerdeka.Jumad pekan lalu.

Menurut Tua Golo, rencana pengembangan geothermal Wae Sano sudah melalui proses yang panjang dan telah melewati tahapan-tahapan seperti survey, penelitian, pengkajian, pendataan dan pengukuran terhadap lahan-lahan masyarakat. Sejumlah pertemuan kampung untuk kegiatan sosialisasi pun sudah secara intensif dilakukan dengan melibatkan banyak pihak termasuk warga yang selama ini berkeberatan kehadiran geothermal.

Hasil-hasil penelitian para ahli geologi dan geothermal pun telah disosialisasikn kepada masyarakat. Selain memaparkan hasil-hasil penelitian secara transparan kepada warga, para ahli pun menjamin bahwa ruang hidup dan pemukiman warga tetap aman, tidak ada relokasi warga atau hal-hal yang membahayakan masyarakat setempat.Karena itu, ketika sekelompok warga menolak proyek itu, mereka diminta untuk mendatangkan ahli juga untuk melakukan penelitian agar hasil-hasil penelitian mereka bisa disandingkan dan dibandingkan dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh perusahaan.

“Sayangnya, sampai sekarang kelompok penolak hanya bilang pokoknya mereka menolak tanpa memberikan alasan yang kuat dan jelas,”ungkap Tua Golo.

Ia menyebutkan, seluruh pertanyaan dan kecemasan warga terutama para penolak geothermal sudah ditanggapi dan disosialisasikan kepada masyarakat oleh pemerintah dan perusahaan. Jadi, kalau sekarang masih ada pihak yang menolak geothermal berarti mereka miliki kepentingan-kepentingan tersendiri.Pasalnya, mayoritas warga Wae Sano dan masyarakat di desa-desa sekitar sangat mendukung kehadiran geothermal. Karena mereka menyadari bahwa program ini sangat baik untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahtraan masyarakat sekarang dan di masa depan.

Menurut Tua Golo Nunang, pemerintah pusat dan daerah tidak mungkin berniat buruk atau mau menyengsarakan rakyatnya. Sebaliknya, semua program pemerintah termasuk proyek geothermal bertujuan baik yakni membantu masyarakat agar keluar dari kemiskinan dan ketertinggalan.

“Jika program itu buruk dan berbahaya bagi rakyat, tentu pemerintah tidak mungkin mau membangun,”tandas mantan guru ini.

Proyek geothermal akan memberikan akses terhadap energi yang terjangkau dan bersih sebagaimana tercantum dalam tujuan pembangunan berkelanjutan PBB No.7 (SDG No.7) yang disepakati secara global. Proyek ini telah melalui kajian yang mendalam. Seluruh dampak negatif terkait ekonomi, sosial, budaya keselamatan serta kenyamanan penduduk setempat telah dianalisis dengan cermat. Serangkaian langkah-langkah antisipatif dan mitigasi juga telah direncanakan untuk memastikan bahwa ruang hidup masyarakat setempat tidak terganggu.

Proyek geothermal juga akan memaksimalkan dampak positif dari kegiatan ini seperti memberikan kesempatan kerja bagi warga masyarakat dan usaha bagi penduduk sekitar proyek. Lahan-lahan masyarakat yang akan dimanfaatkan untuk proyek geothermal juga akan didata, disertifikasi dan disewa-pakai untuk jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan-kesepakatan yang akan dibuat bersama.

Demikian pula secara kultural dan sosial, kehadiran energi panas bumi akan memperkuat kohesivitas masyarakat. Ketersediaan listrik dan fasilitas publik lainnya seperti jalan, air bersih dan telekomunikasi akan mendorong ekonomi masyarakat Wae Sano khususnya dan Sano Nggoang umumnya menjadi lebih mandiri dan maju. *(Kornelis Rahalaka)

Share :

Baca Juga

Ekonomi Bisnis

Jumlah Penduduk Miskin di NTT 20,99 Persen

Ekonomi Bisnis

BPOLBF Dorong Desa Wisata Mandiri Kawasan Floratama

Ekonomi Bisnis

Stef Nali : Proyek Persemaian Benih, Bukan Perambahan Hutan

Ekonomi Bisnis

Kopi Flores dan Pemberdayaan Petani

Ekonomi Bisnis

Floratama Academy Lahirkan Pengusaha Lokal Berwawasan Lingkungan

Ekonomi Bisnis

KLHK Dukung Gerakan Ekonomi Sirkular Pulau Komodo

Ekonomi Bisnis

Kecamatan Sano Nggoang: Kaya Potensi Miskin Perhatian

Ekonomi Bisnis

Tingkatkan Pemahaman Naturalist Guide di TNK