Kisah dari Kampung Adat Tutubhada - FloresMerdeka

Home / Feature

Sabtu, 29 Mei 2021 - 01:41 WIB

Kisah dari Kampung Adat Tutubhada

Kampung Adat Tutubhada. (Foto:BPOLBF)

Kampung Adat Tutubhada. (Foto:BPOLBF)

(Catatan Perjalanan Team BPOPLBF)

Hamparan rerumputan hijau membentang luas di bawah langit biru yang cerah. Di sekelilingnya berdiri tegak bangunan rumah dengan arsitektur tradisional yang kental. Ukiran pahatan berbentuk manusia dengan komposisi setengah badan dan gesture yang beragam terpasang pada bagian depan rumah seolah menyambut kedatangan tamu yang hendak masuk. Setiap rumah memiliki bentuk khas pada ujung atapnya, sangat semiotik. Beberapa makam yang tersusun dari lempengan batu alam memberikan nuansa eksotik pada tempat ini.

Menakjubkan adalah kesan pertama yang didapati ketika memasuki Kampung Adat Tutubhada. Destinasi wisata budaya ini terletak di Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kampung Tutubhada berjarak kurang lebih 12 kilometer dari pusat Kota Mbay. Untuk sampai ke sini, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan motor atau mobil. Kondisi jalannya berkelok dengan topografi pegunungan. Pemandangan indah akan tersuguhkan pada sepanjang perjalanan.

Kampung Adat Tutubhada berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 200 x 25 meter persegi dengan penataan kampung berbentuk persegi panjang. Bangunan rumah berjejer di pinggir dan menghadap ke tengah. Kampung ini membentang dari utara ke selatan dengan rumah utama berdiri di sisi utara. Di depannya terdapat makam leluhur yakni Jogo Sela dan Amerae. Pengelolaannya sendiri dilakukan langsung oleh masyarakat adat setempat.

Hampir sebagian besar rumah adat dibangun menggunakan bahan kayu dan bambu. Atapnya terbuat dari bahan ilalang kering. Rumah Adat Soa Waja Ji Vao secara struktur terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah sebagai kolong rumah tempat menyimpan batu alam, bagian tengah yang difungsikan sebagai ruang tidur dan pertemuan serta dapur yang mana area dapur juga difungsikan untuk menyimpan benda pusaka. Sedangkan bagian atas merupakan atap bangunan.

Beberapa benda pusaka masih tersimpan dengan baik di sini seperti meriam, senapan dan tombak. Salah satu yang menarik adalah Kamukeo, sebuah alat berbentuk tongkat yang digunakan untuk memanggil dan menghalau hujan. Selain benda bersejarah tersebut, kampung ini juga mewariskan atraksi budaya yang sangat unik yaitu tinju adat atau biasa disebut ‘Etu’. Kegiatan ini masih rutin dilakukan sampai saat ini dan biasanya diselenggarakan setahun sekali yakni pada Bulan Juli. Tinju adat Etu menjadi atraksi wisata tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat keunikan Kampung Tutubhada.

Selain tinju adat, ada juga aktivitas budaya lain yaitu Tau Nua atau upacara sunat. Upacara ini dianggap sebagai upacara pendewasaan. Kegiatan sunat biasanya dilakukan di dalam hutan dan mereka yang mengikuti sunat tidak diperbolehkan bertemu keluarganya selama satu minggu dan hanya mengkonsumsi kacang-kacangan dan tebu. Biasanya, pada saat prosesi ini, dilakukan juga para bhada atau pemotongan kerbau. Selain untuk prosesi sunat, para bhada juga biasa dilakukan ketika ada rumah adat yang akan dibangun.

Berdasarkan cerita warga setempat, nama Tutubhada sendiri berasal dari dua suku kata yakni Tutu yang bermakna ‘Dada’ dan Bhada yang artinya ‘Kerbau’. Alkisah, dalam sebuah pengembaraan, terjadi pertemuan antara Ebu Jogo Sela (Mosalaki) dan orang Gowa yang berasal dari Sulawesi Selatan di dekat area kampung saat ini.

Dari perbincangan mereka, Ebu Jogo Sela disarankan untuk membangun area tersebut karena dianggap strategis. Jadilah mereka berdua saling membantu membangun kampung secara bersama. Sembari membangun, tempat ini juga dijadikan sebagai peternakan kerbau oleh Ebu Jogo Sela.

Ketika beberapa kerbau main di kubangan, tampak salah satu induk yang sangat besar sampai dada kerbau tersebut menyentuh tanah. Ebu Jogo Sela terkesan dan menamai kampung yang dibangunnya bersama orang dari Gowa tersebut dari apa yang dilihatnya yakni Tutubhada.

Ada pula tradisi menenun di Tutubhada yang dilakukan oleh para perempuan. Hasil tenunan berupa syal dengan motif adat setempat menjadi buah tangan favorit wisatawan ketika berkunjung ke sini. Para penenun tergabung dalam sebuah kelompok. Hasil tenunan kelompok mereka dibantu pemasarannya oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai upaya pengembangan potensi Kampung Tutubhada.

Pulau Flores memiliki keunikan luar biasa yang selalu membuat kita terkesan dan takjub. Terkhusus Kabupaten Nagekeo yang menyimpan banyak sekali atraksi menarik. Butuh banyak waktu untuk bisa menjelajahi Flores lebih jauh. Banyak sekali hal menarik yang memberi kita pelajaran berharga.*

Share :

Baca Juga

Feature

Agus Puka, Kopi Tuk dan Pariwisata Super Premium

Bumi Manusia

Prahara Kampung Kewa Kaba Manggarai Timur

Bumi Manusia

Golkar Matim: Menyapa yang Papah, Menjemput yang Lemah

Feature

Uluran Kasih Dokter Weng untuk Mama Anastasia di Boleng

Feature

Asyiknya Berwisata di Tengah Pandemi Virus Corona (3)

Feature

Taman Rendo-Ende, Duhai Nasibmu

Feature

Buaya di Waelengga : Dulu Penyelamat, Kini Pemangsa

Feature

Keunikan Kampung Adat Matalafang yang Khas