Jeritan Hati Warga Pingggiran Wae Kelambu - FloresMerdeka

Home / Feature

Senin, 9 November 2020 - 15:43 WIB

Jeritan Hati Warga Pingggiran Wae Kelambu

Kondisi Wae Kelambu, Lamtoro Kelurahan Labuan Bajo yang kotor dan jorok.(Foto:Flores Merdeka/Kornelius Rahalaka)

Kondisi Wae Kelambu, Lamtoro Kelurahan Labuan Bajo yang kotor dan jorok.(Foto:Flores Merdeka/Kornelius Rahalaka)

LABUAN BAJO, FLORESMERDEKA.COM- Pagi yang cerah. Martin Meo Toda, pria paru baya ini tampak sibuk membersihkan sampah yang menumpuk di pinggir rumahnya. Rumah sederhana itu terletak di bibir kali Wae Kelambu, dalam bilangan Lamtoro, Kelurahan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).
Sudah lama warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai biasa memanfaatkan air ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun, sekitar sepuluh tahun belakangan ini, sungai Wae Kelambu nyaris menjadi tempat sampah dan tempat pembuagan limbah industri rumha tangga.

“Dulu, sungai ini sangat jernih. Kami biasa ambil air ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti mandi, mencuci dan memasak. Namun, sekarang kondisinya sangat memprihatinkan,”ujar Martin, demikian ia bapak tiga anak ini biasa disapa mulai membuka percakapan bersama Floresmerdeka.com, Sabtu siang (7/11/2020).

Wae Kelabu sendiri merupakan salah satu sungai yang mengalir sepanjang musim. Nama sungai Wae Kelambu cukup terkenal karena sungai tersebut mengalir membelah Kota Labuan Bajo mulai dari Kampung Sernaru di hulu dekat dengan perbukitan hingga ke Kampung Tengah di Pesisir pantai Kota Labuan Bajo.

Menurut ceritra beberapa orang tua, dulu sungai itu mengalir cukup besar. Penduduk di Lancang, Serbaru, Wae Sambi dan Cowang Dereng terkadang ektra berhati-hati bila hendak menyeberang ke Kampung Wae Mata, Kaper atau ke Gorontalo. Sebab, pada musim hujan, kali Wae Kelambu sering kebanjiran dan meluap sehingga bisa menghanyutkan orang yang lewat.

Namun, sejak Manggarai Barat dimekarkan menjadi kabupaten sendiri disertai pembangunan yang kian pesat, kondisi kali sungai Wae Kelambu banyak mengalami perubahan. Kesan kotor dan jorok segera dirasakan oleh setiap orang yang melintas atau datang ke kawasan itu. Kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan boleh dibilang masih sangat rendah. Ada sebagian warga membuang sampah seenaknya ke kali dan ada sebagian warga yang membangun tempat tinggal dekat di bibir daerah aliran sungai (DAS) tanpa peduli aturan yang ada.

Beberapa kali pemerintah pernah membuat tulisan dan dipajang di beberapa titik di sekitar kali Wae Kelambu namun, warga tak mau ambil pusing. Martin berceritra, beberapa waktu lalu, ada satu investor besar hendak mengambil sungai Wae Kelambu untuk kebutuhan hotel bintang lima di wilayah Wae Cicu. Namun, rencana investor tersebut ditolak oleh warga setempat.

“Kalau air ini diambil oleh pengusaha itu, lalu kami warga di sini mau dapat air dari mana? Mengharapkan PDAM, tidak kunjung datang,”ujar Martin dengan nada kesal. Untung, rencana itu pun gagal setelah banyak warga Lamtoro keberatan atas rencana investor itu. Kekwatiran warga cukup beralasan, karena jika sumber air tersebut dibor dengan teknologi tinggi maka mata-mata air di sepanjang Wae Kelambu diperkirakan bakal habis dan warga akan sulit mendapatkan air bersih.

Marthin Toda, warga penghuni pinggiran Wae Kelambu. Foto/FMC/Kornelis Rahalaka

Meskipun demikian, Martin dan ratusan warga lainnya menghadapi persoalan lain yang tak kalah genting. Bukan hanya masalah kebersihan yang masih menjadi persoalan yang perlu diatasi tapi ulah sejumlah sejumlah oknum warga yang mengambil air untuk diperjualbelikan dengan melakukan pemboran di sekitar mata air. Dampak yang sedang dirasakan yakni debit air kian menyusut bahkan bukan tak mungkin sumber-sumber ait itu bakal kering samasekali.

Ia berharap Pilkada kali ini dapat membawa manfaat. Semoga ada calon bupati dan calon wakil bupati yang memiliki program pro takyat. Setidaknya, pemimpin mendatang punya komitmen terhadap pembangunan lingkungan terutama menjaga dan melestarikan sumber daya air yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Menurut Martin, sungai Wae Kelambu dapat ditata menjadi salah satu destinasi wisata alam yang memberikan kenyamaman bagi warga kota. Ia dan warga Lamtoro berharap pemimpin Mabar yang akan datang dapat menata Wae Kelambu ini menjadi taman kota yang indah, tempat rekreasi dan bersenang-senang. “Kalau di Jakarta, Ahok bisa lakukan itu, mengapa kita tidak bisa buat di kota pariwisata super premium ini,”ujarnya penuh harap. (Kornelius Rahalaka)

Share :

Baca Juga

Kampung Adat Tutubhada. (Foto:BPOLBF)

Feature

Kisah dari Kampung Adat Tutubhada

Feature

Hira Hotak Spot, Meluweskan Pikiran

Bumi Manusia

Kisah Dua Balita Terbakar Api dan Nurani Bripka Andi Darma

Feature

Menelisik Peran Penting BPO Pariwisata Flores

Bumi Manusia

Metanarasi Golkar NTT, Tapak Undur Meraih Kedalaman

Feature

Mama Paulina Bumbung dan Kisah Penjual Pisang Goreng

Bumi Manusia

‘Air Golkar’ Melawat Dahaga Warga

Bumi Manusia

Prahara Kampung Kewa Kaba Manggarai Timur