Bocah Nekat di Balik Layar Pasar Warloka - FloresMerdeka

Home / Bumi Manusia / Feature

Selasa, 18 Agustus 2020 - 12:23 WIB

Bocah Nekat di Balik Layar Pasar Warloka

Tiga orang bocah, Marco, Satrya dan Tores. Mereka bukan bocah biasa. Ketiganya menamakan diri trio nekat.

Tiga orang bocah, Marco, Satrya dan Tores. Mereka bukan bocah biasa. Ketiganya menamakan diri trio nekat.

LABUAN BAJO, FLORESMERDEKA.COM– Tiga orang bocah, Marco, Satrya dan Tores. Mereka bukan bocah biasa. Ketiganya menamakan diri trio nekat. Bocah petani. Ketiganya selalu sambangi kebun pisang milik Opa Pitu Walis. Mereka membantu opa mengangkut buah pisang mentah dari kebun ke rumah.

Kebun pisang Opa Pitu Walis terletak di kawasan Wae Ketoak. Sekitar  20 menit perjalanan dari Kampung Cumbi, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Setelah terkumpul di rumah, hari berikutnya Opa Pitu Walis mengangkut pisang menggunakan kerbau, angkutan tradisional menuju amba atau Pasar Warloka.

Ketiga bocah di atas hanyalah salah satu contoh fakta yang dipotret. Anak-anak petani lainnya di kawasan itu melakukan hal yang sama. Sudah menjadi rutinitas keseharian anak-anak petani lainnya di Desa Warloka dan Desa Tiwu Nampar dan sebagian anak-anak di Desa Macang Tanggar.

Pisang panenan Opa Pitu Walis dipasarkan di Pasar Warloka. Pasar itu merupakan salah satu pasar tradisional di Kabupaten Manggarai Barat. Usianya sudah  ratusan tahun. Pasar tersebut beraktivitas sekali dalam seminggu. Yakni hari Selasa. Durasi pasar ini tidak berlangsung lama. Mulai pukul 07.00 wita hingga pukul 10.00 wita.

Opa Pitu Walis tengah menjajakan dagangannya di Pasar Warloka

Pasar ini terletak di Dusun Warloka, Desa Warloka, kawasan selatan Kecamatan Komodo. Membutuhkan waktu tempuh satu jam berjalan kaki dari Kampung Cumbi, Kenari, Lambur, Mbuhung, Mejer. Dari Labuan Bajo sekitar tiga jam tempuh. Tentunya menggunakan perahu motor.

Pengunjung setia Pasar Warloka umumnya para petani dari kawasan pegunungan dan para nelayan dari kawasan kepulauan. Mereka bertemu dan bertransaksi di pasar tersebut. Transaksi jual-beli, selain menggunakan alat tukar rupiah, juga masih berlaku sistem barter. Ikan ditukar dengan pisang. Atau barang lain sesuai kesepakatan.

“Ketiga bocah di atas hanyalah salah satu contoh fakta yang dipotret. Anak-anak petani lainnya di kawasan itu melakukan hal yang sama”

Penjual dari kawasan pegunungan umumnya menjual hasil perkebunan. Seperti sayur- mayur, buah-buahan, sirih pinang, beras, umbi-umbian. Sementara para nelayan setempat menjual ikan, kue dan lain-lain. Sedangkan para papalele atau pedagang loakan dari Labuan Bajo menjual pakaian dan berbagai alat rumah tangga.

Akses jalan darat menuju pasar tradisional itu hingga saat ini masih memprihatinkan karena belum rampung diaspalkan.

Desa Warloka ini merupakan lintasan yang digadang-gadang menjadi ruas jalan sentral menuju Desa Golo Mori (Tanah Mori). Lokasi G20 dan Asian Summit tahun 2023 mendatang. *(pks)

Share :

Baca Juga

Bumi Manusia

Kampung Takpala, Warisan Budaya Kehidupan Primitif di Dunia

Feature

Watu Rombang, Batu Legenda Berdaya Mistis-Magis
Kampung Adat Tutubhada. (Foto:BPOLBF)

Feature

Kisah dari Kampung Adat Tutubhada

Bumi Manusia

Litani Persoalan Penyerahan Tanah Tanjung Bendera

Bumi Manusia

Lefa Nuang, Tradisi Memburu Ikan Paus Nelayan Lamalera
Nelayan Papagarang sedang menjemur ikan

Bumi Manusia

Mengendus Kisah Hidup Nelayan Papagarang

Bumi Manusia

Guru Ideal dan Tantangannya

Bumi Manusia

“Jokowi…Jokowi…”