"Janjimu Kusimpan dalam Hatiku" - FloresMerdeka

Home / Demokrasi Mabar / Mimbar Demokrasi

Minggu, 30 Agustus 2020 - 03:00 WIB

“Janjimu Kusimpan dalam Hatiku”

Sil Joni

Sil Joni

Oleh Sil Joni

Tadi malam, Sabtu (29/8/2020), saya sempat mengikuti acara ‘diskusi politik’ bertema pengembangan sektor kepariwisataan di Mabar. Acara ini diinisiasi dan difasilitasi oleh sekelompok anak muda potensial yang menamakan dirinya BARA-API (Barisan Relawan Pendukung Pantas-Risky). Bapak Ferdinandus Pantas, salah satu kandidat Bupati Mabar didaulat sebagai panelis tunggal dalam acara bincang-bincang politik itu.

Sang calon bupati (cabup), dalam pengamatan saya ‘tampil sangat elegan dan penuh percaya diri’ dalam mempresentasikan materi politiknya soal tata kelola bidang kepariwisataan di Mabar. Makalah politik itu digarap secara serius. Pikiran-pikiran bernas beliau diabstraksikan dalam sebuah paper 15 halaman dan dipresentasikan selama satu jam.

Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan seorang ‘calon bupati’ mengelaborasi konsep dan visi politik kepariwisataan secara akademik. Kendati masih banyak hal yang perlu dipertajam dalam paper itu, tetapi apa yang diperlihatkan oleh cabup kita ini, merupakan sebuah ‘tradisi pengutamaan politik gagasan’ dalam meraih simpati publik.

Setidaknya, lewat presentasi itu, publik konstituen mengetahui arah atau target yang hendak dicapai dalam pengelolaan sektor kepariwisataan, ketika dirinya berhasil merebut legitimasi publik untuk menahkodai kabupaten ini.

Ada banyak isu krusial yang dibedah secara kreatif dalam forum itu. Saya menangkap dua hal pokok saja. Pertama, daya imajinasi dan kreasi politik bupati sebagai kepala pemerintahan daerah. Bupati mesti cerdas menerjemahkan dan mengatur pelaksanaan pelbagai produk regulasi terkait dengan pengelolaan sektor pariwisata. Sedapat mungkin implementasi kebijakan dan program mulai dari tahap perencanaan sampah pada tahap evaluasi, harus bersifat partisipatif dan membawa keuntungan sebesar-besarnya bagi publik lokal.

Kedua, aspek kesiapan masyarakat lokal dalam berkompetisi pada arena pasar pariwisata. Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah menampilkan perilaku yang mendukung kegiatan berwisata. Kita mesti menjadi tuan rumah yang baik. Selain itu, masyarakat mesti terpacu dan termotivasi untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia sehingga bisa bersaing dalam dunia industri turisme tersebut.

“Ingat, janji dalam perspektif teologis, adalah sebuah doa. Karena itu, jangan main-main dengan janji”

SIL JONI

Tulisan ini tidak berpretensi mengulas secara komprehensif perihal kedalaman dan bobot keilmiahan materi dan performa sang panelis pada presentasi itu. Saya hanya memberikan semacam ‘awasan’ agar gagasan indah di atas kertas dan melengking anggun di atas panggung, tidak sekadar pemanis bibir (lip service) saja.

Pembahasan tentang visi, misi, program, dan strategi pembangunan kepariwisataan dalam sebuah ‘diskusi politik’, saya kira, dalam level tertentu bisa dimaknai sebagai pemberian janji politik kepada publik konstituen. Karena itu, tulisan ini terfokus pada peringatan kemungkinan ‘menepati’ janji tersebut.

“Kata-kata, baru punya arti setelah dinyatakan dalam tindakan”. Itulah salah satu ungkapan brilian dari Khalil Gibran, sang maestro dari Libanon. Kata-kata dan janji politik yang berjubel dari bibir dan lidah para calon bupati dan wakil bupati Mabar pada musim kontestasi pilkada, baru mempunyai makna, ketika direalisasikan dan dieksekusi secara kreatif dan produktif dalam lapangan politik yang konkret.

Kita tahu bahwa di musim kontestasi seperti sekarang ini, mereka bertingkah begitu genit. Kata-kata mereka sesendu mazmur. Janji politik yang terucap seolah menggalah bintang dari tangkai langit, begitu menawan dan penuh harapan. Rakyat menyimpan semua perkara (baca: janji) itu dalam hati sembari berguman: “Terjadilah padaku menurut janjimu itu”.

Apakah janji yang keluar dari mulut politisi itu hanya berupa ‘rayuan gombal’ atau bualan belaka? Saya kira, pengalaman empiris selama ini memang membuat hati kita miris dan teriris. Para politisi yang telah menjadi ‘kuli rakyat’ itu begitu cepat bermetamorfosis menjadi pengkianat publik. Mereka begitu gesit mengangkangi dan memunggungi publik serta berfokus pada penumpukan kapital pribadi dan keluarga.

Janji politisi tidak sejelas janji Sang Fajar yang tidak pernah terlambat bersinar pagi hari. Alih-alih ditepati, justru lusinan janji itu menimbulkan borok sosial yang mengerikan. Janji politik itu kerap menggores ‘luka publik yang pedih’. Publik konstituen terpekur meratapi nasibnya karena hanya menjadi obyek bulan-bulanan janji palsu dari para elit politik yang terhormat itu.

Beruntung publik di daerah kita sudah ‘makan garam’, dalam hal ‘tipuan politik semacam itu’. Publik tidak terlalu peduli dan gubris perihal perilaku tengik mereka kala ‘bergrilya’ di ruang politik. Meski ‘disakiti berkali-kali’, publik tetap menyapa dan menghargai mereka sebagai kawanan makluk politik yang spesial dan terhormat.

Kini, calon wakil bupati, Ferdi Pantas coba meyakinkan publik dengan menawarkan program dan kebijakan politik yang sangat menawan dan meyakinkan dalam lapangan kepariwisataan kita. Apakah beliau sanggup ‘mengobati’ rasa sakit hati publik dengan mendemostrasikan kerja politik yang pro pada kebaikan publik (bonum commune) jika terpilih menjadi bupati? Ataukah beliau akan dengan amat bengis kembali ‘menusuk duri’ pada jantung publik melalui serangkaian pengkianatan yang bakal diperagakan nanti? Ingat, janji dalam perspektif teologis, adalah sebuah doa. Karena itu, jangan main-main dengan janji. Apalagi, meminjam kata-kata pemazmur, ‘janjimu kusimpan dalam hatiku’.

Sekedar untuk mengingatkan pak Ferdi dan kandidat yang lainnya, sudah terlalu lama publik menghibur diri dengan lagu Pance Pondang ini: “Berkali sudah. Kupendam kecewaku. Sering kau tinggalkan diriku sendiri. Kesetiaan ini hanyalah sandiwara….”. Masikah para kandidat ini tega mengkianati janji yang sudah dilambungkan dalam musim kontestasi ketika mereka duduk di singgasana kursi kekuasaan? Semoga tidak.

Setiap perkataan atau lebih tepatnya ‘tawaran politik’ para paslon, pasti disimpan dalam hati oleh publik. Pada saatnya, mereka akan membuka file memorinya apakah ‘tawaran program’ tersebut secara optimal atau tidak.

Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.

Share :

Baca Juga

Bupati Mabar Edistasius Endi dan Direktur Utama BPOLBF. Shana Fatina tandatangani MoU kerjasama pembangunan pariwisata Mabar. (Foto: Humas BPOLBF)

Demokrasi Mabar

Bupati Endi : Tanah 400 Hektar Milik Negara
Maria Geong

Demokrasi Mabar

Maria Geong Puji KPU Mabar

Demokrasi Mabar

Sebastian Salang : Edi-Weng Mampu Jabarkan Visi Besar Jokowi

Agenda Parlemen

Hasil PCR, Dua Anggota DPRD Matim Negatif Covid-19
Adrianus Garu: Rakyat Adalah Saudara dan Sahabat

Demokrasi Mabar

Adrianus Garu: Rakyat Adalah Saudara dan Sahabat

Demokrasi Mabar

Bara Api Desak KPUD Mabar Gelar Debat Paslon
Para siswa/i harus menyeberangi sungai untuk ke sekolah.( Foto: Ist)

Demokrasi Mabar

Bertaruh Nyawa Demi Bersekolah

Mimbar Demokrasi

Petugas PKH Intimidasi Warga Pilih Paket Tertentu