Metanarasi Golkar NTT, Tapak Undur Meraih Kedalaman - FloresMerdeka

Home / Bumi Manusia / Feature

Kamis, 15 Oktober 2020 - 00:46 WIB

Metanarasi Golkar NTT, Tapak Undur Meraih Kedalaman

Melki Laka Lena menerima bendera Golkar setelah terpilih jadi Ketua DPR I Golkar NTT. Foto/dok.bapakita.id

Melki Laka Lena menerima bendera Golkar setelah terpilih jadi Ketua DPR I Golkar NTT. Foto/dok.bapakita.id

Metanarasi Golkar NTT, Tapak Undur Meraih Kedalaman

BORONG, FLORESMERDEKA.COM Potongan memori pohon asam-Tamarindus Indica, di tahun 1982  masih lengket. Kala itu, siang  menjelang puncak. Persis di sisi kiri halaman Kantor Perwakilan Kecamatan Borong di Waelengga- (Kecamatan Kota Komba, saat ini) Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Ratusan orang berkumpul, hening dan hormat.

Di ujung jembatan Wae Lengga, pasukan berkuda asuhan Markus Bana dan Dominikus Nau sedang bersiap-siap. Beberapa warga bersama Camat Melkior Anggal berdiri di pintu pagar masuk halaman kantor. Tak lama berselang, Gubernur NTT, Ben Mboi bersama rombongan tiba.

Prosesi penerimaan berlangsung hikmat. Ayam jantan merah dan sebotol sopi  simbol ritual penyambutan. Bapak Thomas Leghu-tokoh adat setempat  menyapa secara adat. Khusuk dan agung. Gubernur NTT, dr. Ben Mboi, melangkah. Penuh wibawa dengan kepala tegak.

Melihat Gubernur NTT, Ben Mboi adalah momentum perjumpaan yang mengesankan. Pakaiannya rapih. Suaranya bikin gemas, membawa alam bawa sadar mengutak-atik. Mengapa nian suaranya? Tetapi paras ayu nan jelita, Ibu Nafsia Mboi adalah pahatan memori jingga. Kekaguman yang akrab membekas. Meski belum masuk fase lepas landas, tapi pesonanya sungguh bermagnet bagi  salera kaum adam-siapa pun dia.

Kala itu Melkior Anggal dalam sikap sempurna melaporkan kemenangan Partai Golongan Karya (Golkar) hasil pemilu tahun 1982. Selebihnya, tidak banyak yang terekam, tetapi kata Golkar membekas. “Hidup Golkar NTT!” “Hidup Gubernur Ben Mboi!” adalah yel-yel yang kami teriakan. 

Selanjutnya, semuanya duduk, dengar, diam, dan pulang. Tetapi yel-yel hidup Golkar NTT seperti putaran gasing di otak saya. Apakah Golkar itu sejenis  makanan? Ataukah makhluk angkasa, menjadi selarik cuat yang menggedor otak saya kala itu.

Perjumpaan dan yel-yel  hidup Golkar NTT adalah sulaman  memori  yang  memendam, merasuk dan menjiwai alam bawa sadar saya. Dan lomba menulis ficer menyongsong 56 tahun kiprah Golkar NTT menjadi jendela buka mengenang lembar-lembar sejarah Golkar NTT dulu dan kini. Yang lalu dan kini itu menjadi rajutan makna. Kisah bernas terakik abadi. Proficiat Golkar NTT! 

Mengusut Embrio

Paulus Danggur-pengurus Golkar Manggarai periode awal berkisah tentang operasi pemberantasan Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski saat itu, masih berjaket Pemuda Khatolik, tapi pasca pemberantasan PKI, Danggur yang KTU Dinas Pekerjaan Umum (PU) Manggarai itu akhirnya ‘bersarang’ di pohon  Golkar. Maklum sebagai PNS.

“Siang malam kami berantas PKI. TNI ‘sutradaranya’. Kami beberapa PNS eksekutornya. Usai operasi itu saya masuk Golkar,”  tuturnya seraya menambahkan, ”jasa Golkar NTT terlihat sejak pemilu 1971. Di mana-mana Golkar. Saya bangga jadi Gokar,” ucapnya datar.

Tentang Golkar beberapa literatur menyebutkan Partai Golkar resmi terbentuk di Jakarta  20 Oktober 1964. Cikal bakal embrionya berawal dari Sekretaris Bersama (Sekber). Konon Partai Golkar lahir atas prakarsa perwira militer Angkatan Darat (AD). Sasaran tembak perjuangan, memerangi napsu liar PKI yang semakin nekat menggerogoti stabilitas politik di Tanah Air.

Misi luhur Partai Golkar inilah membakar adrenalin sejumlah organisasi  fungsional urun-rembuk bergabung. Tercatat dalam tempo singkat 61 organisasi nyatakan koalisi, lalu membengkak menjadi 291 dan seterusnya jadi  300. Hal ini membuktikan spiritualitas perjuangan Golkar mendapat tempat di sejumlah organisasi fungsional itu.

Salah satu kegiatan DPD I Golkar NTT menongsong hari jadinya. Foto/dok.Pelopor9.com

Sebab disadari penetrasi perjuangan PKI yang semakin luas, masif dan terstruktur sangat menggoyahkan stabilitas nasional. Karena itu, agar visi Golkar jadi kekuatan bersama, oganisasi fungsional yang berbagung itu dikristalkan jadi tujuh kino. Selain Kosgoro sebagai ‘anak sulung’ beberapa kino lainnya yakni,  Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi), Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), dan Gerakan Karya Rakyat Indonesia (Gakari). (bdk. Frans Sarong dalam  Jejak Karya Golkar NTT ; 2018,  hal: 23-29).

Partai Golkar dengan sistem koordinasi berjemaat itu mendaratkan langkah di NTT. Letkol Musa dan Gubernur El Tari adalah faunding father Golkar NTT. Keduanya terus melesatkan karya-karya monumental. Dokter  Ben Mboi termasuk salah satu sesepuh Golkar NTT yang mementaskan karya-karya kekaryaan Golkar itu. Sejak itulah bendera perjuangan dikibarkan dan kader-kader Golkar NTT membuktikan pelayananya. Mengabadikan cita rasa pembangunan yang membebaskan masyarakat. Golkar NTT dalam seluruh ‘buah’ karyanya adalah sejarah yang tetap menyejarah. Tak terbantahkan. 

Pergulatan Meraih Kedalaman

Perjumpaan di pohon asam tahun 1982 itu-termasuk kisah sesudahnya dari Bapak Markus Bana-tokoh Golkar Kota Komba, tetap membekas-abadi. Untuk komunitas Rongga- etnhik minoritas di selatan Manggarai Timur melukis Golkar NTT  dengan syair ini. “Nunu Golkar kita..Nunu Golkar kita . Wunu da ghera ghebha mawo tanah bhea!” Terjemahan bebasnya. Beringin Golkar kita. Rimbunan daunnya menaungi wilayah kita-NTT.

Rekam ingatan itulah menjadi ruang hela napas untuk jedah atret. Menyelam kisah, menimbah sumur-sumur pergulatan Golkar di NTT menjadi  ziarah pulang memantik romantika meraih kedalaman.

Betapa tidak, pahatan pengalaman dan jelajah juang Golkar NTT menjadi endapan energi yang mesti dicuathidupkan. Sebab  Golkar NTT dalam seluruh pentasraganya berenergi, meletakkan peradaban sejarah yang mengabadikan. Meski untuk meraih semuanya itu harus ‘berperang’ melawan dikotomi dan libido kekuasan Belanda.

BACA JUGA: https://floresmerdeka.com/golkar-optimis-edi-weng-menang-pilkada-mabar/

https://floresmerdeka.com/frans-sarong-pilihan-golkar-untuk-edi-weng-seiring-dengan-survei/

Perjalanan pulang memaknai lembar sejarah Golkar NTT, dr. Ben Mboi berkisah dalam bukunya, Ben Mboi Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja: Kepustakaan Populer Gramedia/KPG, 2011). Ben Mboi menarasikan awasan bernas-lurus dari Schuller-mantan residen terakhir Belanda di Timor. Schuller menyadari contract staatsbland racikan Belanda tahun 1913 adalah strategi memuluskan ekspansi ekonomi.

Karena itu kekuatan Katholik-Protestan harus dikerangkeng-karantina. Sebab  Belanda menyadari bertautan dengan urusan agama atau suku selalu mendapat garansi keamanan. Dengan itu napsu kucing nggarong Belanda bisa nyaman, leluasa, dan meraja lela.

Strategi politik busuk racikan Belanda tahun 1913 itu mewaris. Bahkan menjadi ‘peradaban’ yang ‘terberikan’. Akibatnya dialektika kehidupan Katholik-Protestan selalu menjurus ‘kriminalisasi’. Di titik ini, awasan Schuller menjadi side efeck  serta modus operandi bagaimana mengurai kusutnya serentak mendaur ulang  agar realitas kelam itu tidak mengakar.

Ketua DPD I Golkar NTT, Melki Laka Lena. Foto/dok.lantera.pos

Realitas ini, ketika Ben Mboi menjadi Ketua Bapilu pada pemilu 971 pihaknya menyusun daftar calon Golkar secara cerdik pandai berdasarkan geowilayah, kultur dan track record calon. Tokoh-tokoh penting di daerah ‘dicopot’ dan digiring  masuk calon Golkar. Meski kebijakan itu diragukan Gubernur NTT, El Tari.

“Apa lu punya maksud?”  tulis dr. Ben Mboi dalam bukunya Ben Mboi Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja: Kepustakaan Populer Gramedia/KPG, 2011,  hal. 260). Tetapi gugatan Gubernur NTT, El Tari terjawab dalam hasil pemilu 1971 itu. Di mana Golkar NTT berhasil kirim delapan orang dari 12 formasi  kursi DPR RI.

Perolehan kursi Golkar itu menggeser dominasi kekuatan Partai Katholik yang hanya kebagian dua kursi, sekaligus representase buah karya kerja keras selama tiga bulan masa kampanye.

Mengisi hari-hari juang  menuju puncak, disebutkan ada pembagian wilayah tanggung jawab. Di mana Ketua Golkar NTT Letkol Musa kawal  wilayah Sumba, Gubernur EL Tari di daratan Timor dan Flores tanggung jawab, dr. Ben Mboi. Metode ini efektif sehingga Golkar NTT meraih kesuksesan. Meski awalnya ragu sebagai partai baru, tetapi kerja keras trio nekat NTT, El Tari, Kolonel Musa dan dr. Ben Mboi membawa hasil membanggakan. Dan pembagian wilayah tanggung jawab yang didesain dr. Ben Mboi adalah kiat jitu menggapai mimpi. Dan mimpi itu terjawab.

Hasil pemilu 1971 itu menjadi pantulan wajah cerah Golkar NTT. Sejak saat itulah  Golkar terus menancapkan panji karya di semua sektor kehidupan masyarakat NTT. Meski warisan politik karantina bentukkan Belanda tidak segara terkikis. Tetapi setidaknya terlihat dan tergambar adanya paradigma baru geopolitik di NTT dari ideologi agama dan suku menjadi ideologi kekaryaan.

Rumah Hunian Bersama

Sekat karantina-warisan Belanda sudah retas. Meski riak-riak kecil kadang menguap, tetapi tidak menular. Golkar NTT sudah memulainya.Benarlah Asrul Sani (1927-2004) dalam eleginya, “Ia yang hendak mencipta, menciptalah atas bumi ini!.

Golkar NTT telah “menciptakan” ruang baru tanpa sekat. Karena itu Ketua DPD I Golkar NTT, Melki Laka Lena, dalam setiap kesempatan lawatan selalu mengingatkan,” Golkar NTT menjadi rumah politik hunian bersama baik laki maupun perempuan. Dengan itu spirit perjuangan dan napas keberpihakan tetap kokoh. Tetapi tetap mesra akrab dengan senior dan sesepuhnya,” ujar Melki Laka Lena, sebagaimana dikutip Frans Sarong dalam Pos Kupang, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Golkar NTT di usianya yang ke-56 telah  melewati fase  politik  menegangkan. Sudah melewati ‘jerapah’ kuasa yang menerabas ke mana-mana. Golkar NTT sudah mencipta dan tetap mencipta. Yang tercipta itu  tetap abadi. Golkar NTT memantik kiat menebar dengan cepat, merangkuk untuk maju. Golkar NTT alergi sandiwara politik ‘ejakulasi dini’-hidup enggan mati tak mau. Itu sebabnya Golkar NTT tetap berkibar.

Di bawah nakhoda Melki Laka Lena-di usia yang ke-56 ini, kader-kader Golkar diajak menukik lebih dalam dan menemukan betapa dasyat tambatan kekayaan hasil ciptaan kader-kadernya. Semoga Golkar NTT bukanlah auman singa tua yang falsh, tetapi ledakan energi baru yang menggairahkan politik keberpihakkan sehingga Golkar NTT- rumah hunian kita bersama menjadi teduhan yang menyenangkan dan membahagiakan.

Bravo Golkar NTT. Berhutlah dalam hening yang dalam. Di sanalah butir-butir ‘keajaiban’ ciptaan kader Golkar ditemukan. (kanis lina bana)

Share :

Baca Juga

Feature

Watu Rombang, Batu Legenda Berdaya Mistis-Magis

Bumi Manusia

Tanah Longsor Tutup Lahan Sawah Warga Mokel Morid

Bumi Manusia

Menyelami Jejak Arkeologi Labuan Bajo Di Goa Batu Cermin
Hewan kurban Idul Adha

Bumi Manusia

Idul Adha, Ber-Qurban dan Solidaritas di Pangabatan

Feature

Sulitnya Membuka Pikiran Masyarakat

Bumi Manusia

Elisabet Yani Taralili dan Kuliner Khas Flores

Bumi Manusia

Pesona Wisata di Bibir Selatan Nanga Rawa (1)
Pantai Leworahang (Foto Vinsen Patno Floresmerdeka.com)

Bumi Manusia

Menikmati Pesona Pantai dan Air Panas Leworahang