Mental Revolusioner - FloresMerdeka

Home / Kolom / Sudut Pandang

Selasa, 22 September 2020 - 12:12 WIB

Mental Revolusioner

Kornelius Rahalaka

Kornelius Rahalaka

Oleh : Kornelius Rahalaka

Mental diartikan sebagai kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik yang dimiliki seseorang yang tercermin dalam sikap dan perbuatan atau terlihat dari psikomotornya.

Dalam ilmu psikiatri dan psikoterapi, kata mental sering digunakan sebagai ganti dari kata personality (kepribadian) yang berarti semua unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap (attitude) dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan dan menggembirakan, menyenangkan dan sebagainya.

Kata mental memiliki persamaan makna dengan kata psyhe yang berasal dari bahasa latin yang berarti psikis atau jiwa. Ini sedikit berbeda dengan kata spiritual yang berasal dari kata spirit atau spiritus dari bahasa latin yang berarti roh, jiwa, sukma, kalbu, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup, yang dalam perkebangan selanjutnya kata spirit diartikan secara lebih luas lagi.

Di mana para filosuf mengonotasikan spirit dengan kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada kosmos, kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan dan inteligensi, makluk immaterial, wujud ideal akal pikiran seperti intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian.

Ditinjau dari bentuknya, spirit menurut Hegel memiliki tiga tipe yakni subyektif, obyektif dan obsolut. Spirit subyektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya. Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran baik dalam pengertian legal maupun moral.

Sedangkan spirit obsolut dipandang Hegel sebagai tingkat tertinggi yakni sebagian dari nilai seni, agama dan filsafat. Secara psikologik, spirit diartikan sebagai soul (ruh/roh) suatu makluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being).
Spirit juga berarti makluk adikodrati yang nir-bendawi.

Karena itu, dari perspektif psikologik, spiritualitas dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi dan cenderung ‘timeless & spaceless’ termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, Jin, setan, hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai estetik dan sebagainya.

Spiritualitas agama misalnya berkenan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas dan nilai-nilai luhur lainya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama bersifat ilahiah bukan bersifat humanistic lantaran berasal dari Tuhan.

Dari uraian di atas, jika dikaitkan dengan pemimpin dan kepemimpinan maka mental yang baik dan sehat sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Mental yang sehat selalu tercermin dalam sifat-sifat yang khas seperti kemampuan untuk bertindak secara efisien, memiliki tujuan hidup yang jelas, memiliki konsep diri yang sehat, memiliki integritas yang tinggi, kematangan emosional, memiliki intelektualitas yang memadai.

Mental yang sehat adalah terwujudnya keserasihan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya menyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya (bdk. Zakiah Daradjat). Jika mental sehat dicapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian dan identifikasi positif terhadap orang lain.

Sedangkan menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya ‘Psikologi agama’ menyebutkan bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tenteram dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi atau penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan.

Kemudian menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.

Dari beberapa definisi atau pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa orang yang sehat mentalnya adalah terwujudnya keharmonisasian dalam fungsi jiwa serta tercapainya kemampuan untuk menghadapi permasalahan sehari-hari, sehingga merasakan kebahagian dan kepuasaan dalam dirinya dan orang lain.

Sementara itu, kata revolusi adalah perubahan social dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan. Ukuran kecepatan atau perubahan sebenarnya relative karena revolusipun dapat memakan waktu lama.

Misalnya revolusi Inggris yang memakan waktu puluhan tahun namun dianggap cepat karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang samasekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun.

Berkaitan dengan revolusi mental sebagaimana dicetuskan oleh Joko Widodo (Presiden Indonesia), sebagai sebuah gerakan perubahan, revolusi mental perlu lebih dikonkritkan lagi. Revolusi mentalnya siapa? Mentalnya masyarakat? Mentalnya pemimpin? Ya, semuanya. Singkatnya revolusi mental kita semua, tanpa ada pengecualian, entah dia rakyat biasa atau seorang penguasa/pemimpin.

Namun, mental revolusioner sebagaimana judul di atas hendak menyoroti secara khusus perihal mental seorang penguasa/pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya. Mental seperti apa yang patut dimiliki oleh seorang pemimpin? Jawabannya, selain memiliki mental yang sehat, seorang pemimpin harus memiliki mental revolusioner.

Pemimpin yang bermental revolusioner adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan-perubahan mendasar seperti perubahan dibidang pemerintahan, pembangunan, perubahan keadaan social ekonomi dan budaya serta industri untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Pemimpin bermental revolusioner adalah pemimpin yang tampil sebagai perintis dan pelopor perubahan. Ia harus menjadi penggerak perlawanan dengan mengubah sistem atau struktur-struktur yang menindas. Ia harus hadir sebagai pelopor pembebasan dari kungkungan kemiskinan dan keterbelakangan.

Seperti dilakukan oleh banyak pemimpin di masa lalu. Soekarno adalah satu diantara pemimpin dunia yang bermental revolusioner itu. Ia menjadi pelopor kemerdekaan Indonesia dan perdamaian dunia. Kini dan di sini kita membutuhkan pemimpin bermental revolusioner bukan pemimpin yang biasa-biasa saja.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Floresmerdeka.com

Share :

Baca Juga

Bernardus Tube Beding

Sudut Pandang

Wings Air, Antara Peluang dan Tantangan

Sudut Pandang

Politik Menuju Revolusi

Sudut Pandang

Pelayanan Publik Bebas KKN

Kolom

Potensi Wisata Flores dan Harapan Pengembangannya

Sudut Pandang

“Kado” Pemerintah di Era Baru

Sudut Pandang

Proficiat Bupati Ande Agas

Sudut Pandang

HUT Manggarai Timur, Ruang Atret Mengenang Sejarah
Siprianus Jemalur

Sudut Pandang

Investasi SDM Generasi Muda NTT Melalui Australia Award Indonesia