Congko Longkap, Ritus Penyucian Kampung - FloresMerdeka

Home / Bumi Manusia

Minggu, 1 Mei 2022 - 23:15 WIB

Congko Longkap, Ritus Penyucian Kampung

Pemberian sesajian untuk para leluhur saat acara congko longkap.(Foto:Kornelis Rahalaka/Floresmerdeka)

Pemberian sesajian untuk para leluhur saat acara congko longkap.(Foto:Kornelis Rahalaka/Floresmerdeka)

Congko Longkap dalam bahasa Manggarai berasal dari dua kata yakni congko dan longkap. Congko artinya angkat dan longkap artinya kulit yang menutupi batang atau isi dari pohon seperti kulit kayu yang sudah mati.

Secara harafiah, congko longkap dapat diartikan sebagai kulit-kulit kayu yang mati atau yang tidak berguna lagi sehingga mau diangkat, dibersihkan atau dibuang karena sudah tidak berguna, kotor dan tidak baik.

Congko longkap identik dengan ruwatan bumi dalam tradisi Jawa yang artinya, pembaharuan hidup oleh sebuah komunitas atas berbagai hal yang tidak baik, kotor atau rusak yang mengganggu keharmonisan atau kerukunan hidup komunitas atau sesama.

Biasanya, ritus adat congko longkap dilakukan oleh sebuah komunitas yang memiliki hubungan secara genealogis. Tradisi ini, dilaksanakan sesuai dengan filosofi dasar orang Manggarai yakni gendang one lingko pe’ang yakni seluruh aspek kehidupan seperti tempat kediaman, kebun, hutan, tanah dan air merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Ritus ini bertujuan untuk membersihkan kampung atau komunitas dari bencana alam atau pun berbagai perilaku buruk  yang dilakukan oleh warga kampung yang menimbulkan gangguan keamanan, ketidakharmonisan dan sebagainya.

Dalam ritus adat congko longkap ini, keterlibatan para leluhur sangat penting. Karena pada saat upacara adat digelar, seluruh arwah leluhur akan dipanggil atau diundang untuk hadir menyaksikan acara penyucian kampung atau komunitas tersebut. Acara ritual tersebut akan ditandai penyembelian hewan kurban persembahan untuk para leluhur seperti babi, sapi  atau kerbau.

Tujuan ritus ini tidak lain yakni membersihkan atau menyucikan kampung dari hal-hal yang tidak baik karena dianggap merusak atau mematikan kehidupan komunitas yang bersangkutan. Dalam upacara itu juga akan dilakukan sumpah adat kepada bunda tanah atau ende tanah serta ema awang (bapak langit).

Demikian pula, congko longkap biasa diadakan di compang (mesbah/altar berbentuk bundar yang terlerak di tengah kampung). Compang bagi orang Manggarai diyakini sebagai tempat bersemayam bunda tanah. Di tempat inilah congko longkap dilaksanakan dan disaksikan oleh para leluhur.

Congko longkap tidak boleh dilakukan di sembarangan tempat seperti kantor bupati misalnya atau oleh komunitas yang tidak memiliki ikatan keturunan. Sebab, dalam acara tersebut akan diundang para arwah leluhur untuk hadir mengikuti upacara tersebut.

Maka bagi orang Manggarai,compang biasanya didirikan oleh komunitas adat. Komunitas adat tersebut akan menetapkan tempat khusus untuk mendirikan compang yakni biasanya terletak di tengah-tengah kampung.

Jadi, congko longkap diadakan oleh komunitas yang punya hajat dan dilakukan secara turun temurun. Ritus adat tersebut hanya dapat dilakukan oleh warga  yang memiliki relasi sosial dengan komuntas tersebut.  Jika ada warga yang hendak mengadakan congko longkap, ia harus kembali berkumpul di komunitasnya masing-masing.

Tradisi congko longkap dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan. Misalnya, ketika terjadi gagal panen, terkena musibah atau terjadi perilaku menyimpang yang dilakukan oleh warga kampung.

Sedikitnya orang Manggarai menganut lima nilai filosofi dasar. Kelima filosofi dasar tersebut menjadi way of life orang Manggarai. Pertama, adanya mbaru bate kaeng yakni rumah tempat tinggal. Kedua, uma bate duat yakni ladang tempat untuk berkebun. Ketiga, wae bate teku yakni adanya mata air untuk ditimba demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Keempat, natas bate labar yakni adanya halaman komunitas yang menunjukkan satu kesatuan dengan compang sebagai pusat pemersatu dan Kelima, compang yakni tempat bersemayannya  bunda tanah sebagai sumber dari segala sumber kehidupan atau roh pemberi kehidupan.

Kelima aspek tersebut mutlak ada dalam kehidupan orang Manggarai. Karena kelima nilai luhur tersebut sebagai tanda bahwa di komunitas tersebut ada roh kehidupan. Namun, jika salah satu aspek tidak ada atau tidak ada samasekali maka sesungguhnya, tidak ada kehidupan. Jika tidak ada kehidupan maka roh jahat/jin/setan/iblis mudah merasuki warga sehingga menimbulkan kematian atau terserang berbagai penyakit.*

Editor : Kornelis Rahalaka

Share :

Baca Juga

Bumi Manusia

Menapak Lintasan Sejarah Pers di Flores

Bumi Manusia

Tanah Tanjung Bendera, Jejak Kisahmu. (1)

Bumi Manusia

Asyiknya Berwisata di Tengah Pandemi Covid-19 (1)

Bumi Manusia

Paradoks Komodo Warisan Dunia (bagian-3)

Bumi Manusia

Kemenkominfo Gelar Anugerah Jurnalistik Kominfo 2021

Bumi Manusia

Mengenang Pater Alex Beding, Tokoh Pers NTT

Bumi Manusia

Tanah Longsor Tutup Lahan Sawah Warga Mokel Morid
Tanah di Dahot

Bumi Manusia

Konflik Tanah di Manggarai, “Berperang” Melawan Diri Sendiri