Filsafat dan Teologi Instrumen Emansipatoris - FloresMerdeka

Home / Pendidikan

Minggu, 1 Mei 2022 - 23:19 WIB

Filsafat dan Teologi Instrumen Emansipatoris

Perarakan para wisudawan STFK Ledalero.(Foto:ist)

Perarakan para wisudawan STFK Ledalero.(Foto:ist)

MAUMERE, FLORESMERDEKA.com- Filsafat dan teologi hendaknya digunakan sebagai instrumen emansipatoris dalam membaca tanda-tanda zaman dan melakukan perubahan sosial-politik. Demikian dikemukakan Dr. Otto Gusti Madung dalam sambutannya pada acara wisuda para sarjana filsafat dan teologi di Aula Santo Thomas Aquinas Ledalero, Kamis (28/4/2022).

Mengutip nasihat sekaligus kritik Karl Marx terhadap filsafat dan teologi yang dinilainya masih relevan saat ini – sebagaimana tertuang dalam tesis 11 tentang Feuerbach, di mana Marx menulis: “Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt darauf an, siezuverindern!”

“Hingga kini para filsuf hanya menafsir dunia dengan cara-cara berbeda, tugas filsafat sesungguhnya ialah mengubah dunia,” katanya.

Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah RI lewat Dirjen Bimas Katolik, LLDIKTI Wilayah 15, Pemerintah Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Sikka yang telah mendukung kerja lembaga pendidikan tinggi ini sehingga dapat mewisuda sebanyak 249 tamatannya.

Sementara itu, wakil wisudawan, Anselmus Bala Molan dalam orasinya berjudul “Berfilsafat dan Berteologi di Tengah Dunia Dongeng-Dongeng” antara lain menyebutkan bahwa dinamika sejarah hidup umat manusia sesungguhnya adalah dialektika dongeng-dongeng.

Menurut dia, sebagai sejarah hidup dalam kurun waktu tertentu, masing-masing dongeng itu dibatinkan sebagai paradigma hidup dan bahkan dianggap sebagai kebenaran-kebenaran kendati di dalamnya termuat narasi-narasi penderitaan, yaitu penindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh orang-orang kecil dan lemah serta orang-orang tersisihkan dan terpinggirkan.

Aneka dialektika dongeng di atas, kata dia, menuntut filsafat dengan prinsip validasi yang kritis, membongkar segala bentuk penindasan dan ketidakadilan demi sebuah perubahan dan pembebasan. Dalam pengertian, berfilsafat sesungguhnya mengandung dimensi liberatif, yaitu roh yang menggerakkan kepada pembebasan seperti kata Karl Marx yang mengkritisi para pemikir pada zamannya bahwa yang terpenting bukan hanya menafsir dunia, melainkan mengubah dunia.

Dia mengatakab, berhadapan dengan dongeng-dongeng dengan segala narasi penindasan dan ketidakadilan yang sama tersebut, terutama narasi yang mengatasnamakan Yang Ilahi, teologi berusaha merumuskan dan menjawabi pertanyaan Tuhan seperti apa yang dialami oleh orang-orang kecil dan lemah serta orang-orang tersisihkan dan terpinggirkan.

Tuhan sudah mengatakan dan berbuat apa dan Tuhan mau mengatakan dan melakukan apa terhadap situasi hidup mereka tersebut. Dalam konteks ini, teologi harus mengibarkan bendera transformatifnya. Teologi mencari potensi transformatifnya untuk membebaskan mereka dari segala narasi penindasan dan ketidakadilan itu. Titik tolak daya transformatif ini adalah Tuhan peduli terhadap penderitaan manusia dan selalu berkehendak menyelamatkan dan membebaskan manusia.

“Berpegang pada ajakan ini, bahwa filsafat dan teologi dengan segala tugasnya di hadapan dongeng-dongeng, terutama semua dongeng dengan segala narasi penindasan dan ketidakadilan, lembaga STFK Ledalero harus menjadi lembaga pendidikan yang merintis ikhtiar pembebasan dan transformasi sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Tamatan Berkualitas

Kakanwil Kementerian Agama Provinsi NTT Reginaldus Saverinus Sely Serang dalam sambutan antara lain menyampaikan apresiasi kepada STFK Ledalero yang telah menghasilkan tamatan yang berkualitas yang bekerja di pelbagai bidang tugas di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri melalui para misionaris yang bekerja di puluhan negara pada lima benua di dunia yakni Amerika, Eropa, Asia, Afrika dan Australia.

Sementara jumlah mahasiswa yang kuliah di STFK Ledalero 1315 orang. Mahasiswa terbagi dalam 15 Konvik (biara) dan satu paguyuban mahasiswa awam. STFK Ledalero mengelola tiga program studi yakni Prodi S1 Filsafatsebanyak 1067 mahasiswa, Prodi S1 Pendidikan Keagamaan Katolik sejumlah 93 orang dan Prodi Magister Teologi sebanyak 155 orang.*

Editor : Kornelis Rahalaka

Share :

Baca Juga

Pendidikan

SMAK Pancasila Borong, Gelar Seminar

Pendidikan

Prosa Kecil Buat Guruku

Pendidikan

‘Pasukan’ 212 SMAN 3 Borong, Selalu All Out (2)

Pendidikan

Mendikbud Tiadakan Ujian Nasional

Pendidikan

SMAK St. Ignatius Loyola Gelar English Competition

Pendidikan

Latihan Jurnalistik Cara Efektif Berliterasi

Pendidikan

Komisi V DPRD Provinsi NTT Bahas Kemelut SMAN 2 Rahong Utara

Pendidikan

Ijasah dan Kepintaran Tidak Menujukkan Kualitas Diri